Berita PDAM Intan Banjar

Kabar Terbaru

Drs. H.M. Rifqie Basri, M.S. Benahi Intan Banjar dengan Konsep Penataan dan Perbaikan

July 4, 2013

Drs. H.M. Rifqie Basri, M.S.
Dirut PDAM Intan Banjar

 

Bekerja keras sudah menjadi bagian hidup dari Rifqie Basri.  Pria kelahiran Kota Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah Provinsi Kalimantan Selatan 28 Nopember 1956 itu, disaat masih kecil sudah mencari uang dengan berjualan kue keliling kampung. Setelah beranjak dewasa atau tepatnya saat masih  berstatus mahasiswa tingkat dua di Institut Akuntansi Bandung (sekarang namanya menjadi Universitas Widyatama) pada tahun 1976, ia juga kuliah sambil bekerja.

Kala itu suami dari Dhina Sulastini tersebut bekerja di kantor akuntan sebagai konsultan keuangan dan perpajakan.  Rifqie ternyata sempat bekerja diperbankan, dimana selama lima tahun ia bekerja di Bank Umum Nasional, yakni pada tahun 1980 hingga 1984. Setahun kemudian ayah dari M. Ibnu Kautsar, M. Bashir Al Fattah, dan M Ikhsan Saputro ini berhasil menamatkan kuliahnya di institut tersebut.
Setelah menamatkan kuliahnya tahun 1985,  Rifqie bergabung dengan konsultan air yakni Waseko Tirta. Perusahaan tersebut bekerjasama dengan konsultan dari Belanda,  Iwako. Dari sinilah ia mengenal dunia air minum. Hingga tahun 1994 ia memutuskan untuk keluar dari perusahaan tersebut dan memilih untuk mendirikan perusahaan konsultan sendiri bersama teman-temannya.

“Saya mendirikan perusahaan konsultan air minum dan managemen bersama teman-teman. Tahun 1994 hingga 1996 saya di Irian, membantu  10 PDAM se-Irian Jaya. Namanya dulu Provincia Monitoring Development Unit. Kita memberikan advice seluruh PDAM baik itu manajemennya, dan juga keuangannya. Pada kesempatan itu juga kita memberikan training pada staf dan direksi PDAM,” jelas Rifqie kepada Majalah Air Minum, 12 April lalu.  Pengalaman sebagai konsultan semakin banyak ia dapatkan ketika menjadi konsultan berbagai instansi yakni Bappenas, PU Cipta Karya, Badan Koordinasi Penanaman Modal  (BKPM) dan  Departemen Perindustrian dan Perdagangan, di tahun 1998 hingga 2004.
Dengan banyaknya pengalaman dalam mengurusi sektor air minum, ternyata membuat adiknya, Riza, tergerak untuk mengikutsertakan Rifqie dalam fit and profer test calon Direktur Utama PDAM Intan Banjar, tahun 2004 lalu. Tanpa sepengetahuan Rifqie, namanya didaftarkan ke pihak panitia pemilihan. “Saya tidak tahu, adik saya cuma minta riwayat hidup saya. Ya saya kasih aja,” ucapnya sambil tersenyum. Pada akhirnya Rifqie baru mengetahui ketika sang adik menelponnya untuk berangkat ke Kalimantan Selatan untuk mengikuti pemilihan pimpinan tertinggi di PDAM tersebut.

Penegakkan Disiplin Diterapkan 
Berbekal pengalamannya yang sudah bertahun-tahun sebagai konsultan bidang air minum, Rifqie pun menyiapkan konsep penataan dan perbaikan PDAM. Saat itu ia membulatkan tekad untuk mewakafkan dirinya untuk PDAM dan sektor air minum. Alasannya, pekerjaan yang paling mulia adalah di PDAM, dimana memberikan air bagi kehidupan masyarakat. Oleh karena itulah Rifqie merasa harus all out, bekerja di PDAM.  “Waktu itu saya nothing to loos, tidak ada beban. Saya punya komitmen, kita harus membenahi PDAM se Indonesia ini yang ancur-ancuran. Saya sudah menyatakan saya sudah mewakafkan diri saya, untuk kebaikan PDAM baik kesehatan dan pelayanannya,” tegas Rifqie.
Ketika berkesempatan bertemu Bupati  Kabupaten Banjar, yang saat itu dijabat  Rudi Arifin,   Rifqie ‘menantang’ bupati untuk untuk berkomitmen secara bersama-sama memperbaiki PDAM dengan memenuhi tiga hal. Pertama, perlu adanya investasi, karena kondisi PDAM yang sudah buruk. Kedua, Rifqie meminta kebebasan dalam melaksanakan tugasnya sehingga tidak ada intervensi dari Bupati maupun pejabat lainnya. Ketiga, ia meminta untuk tidak ada titip-titipan orang dari pejabat manapun untuk masuk menjadi karyawan PDAM.

“Jadi penyebab rusaknya PDAM, tiga hal itu. Waktu itu saya bilang, kalau ada komitmen yang sama dari Bupati maupun Dewan Pengawas, maka kita bisa jalan. Kalau tidak memiliki komitmen, saya diluar. Alhamdulillah Bupati menyanggupi, dan selama sekitar delapan tahun saya menjabat, saya menilai pejabat disana memegang teguh persyaratan yang saya sampaikan tersebut,” ungkapnya.
Pada tahun pertama menjabat sebagai direktur utama, Rifqie mulai dihadapkan berbagai masalah, terutama masalah kedisiplinan para pegawainya, dimana banyak yang bekerja sebentar dan langsung pulang, bahkan ada yang tidak melakukan apapun.  “Waktu itu PDAM itu ancur-ancuran. Karyawan tidak kondusif, ada kelompok-kelompok karyawan, kemudian saya masuk sana, saya lakukan perombakan,” tuturnya. Dengan keyakinan yang tinggi dan bekal sebagai konsultan selama ini, Rifqie mulai dengan trik-trik pembenahan.

Sebelum merombak total PDAM, Rifqie memberikan pemahaman kepada pegawai dengan membuat motivation training yang mengambil tema “berubah atau musnah”. Menurut Rifqie Judul ini diambil karena kondisi PDAM yang sudah sangat parah pada saat itu. “Sebenarnya itu adalah brainwash, tapi kita tidak fokuskan kesana, nanti curiga orang khan. Tapi intinya merubah fikiran mereka. Sehingga dari sekitar 100 karyawan kita bikin tiga kelas. Jadi kita konsentrasi satu diklat, karyawan kita inapkan dua malam tiga hari secara bergantian,” ulasnya.
Pada training tersebut, setiap karyawan ditanyakan mengenai keinginannya terhadap PDAM.  Setelah menanyakan kepada setiap karyawan, akhirnya Rifqie menemukan 26 macam permintaan karyawan. Beberapa prioritas permintaan karyawan diantaranya penegakan disiplin, kesejahteraan dan komitmen dari direksi. “Berdasarkan itulah, saya sampaikan kepada karyawan, saya ingin mewujudkan keinginan kalian, tapi kalian harus sama dengan keinginan saya. Kalau kalian mau itu, kalian harus ikut saya. Akhirnya kita jalankan penegakan disiplin. Dulu itu peraturan perusahaan hilang semua dan data karyawan hilang semua. Saya tahu ada orang-orang bermasalah disana,” jelas Rifqie.

Untuk mengatasi masalah data kepegawaian ini,  Rifqie menetapkan kebijakan, yakni menyuruh semua karyawan membuat lamaran kembali. “Maksudnya mereka membuat data, si A masuk jadi karyawan tahun berapa dan berbarengan dengan siapa. Dicocokkan datanya satu karyawan dengan yang lain,” tambahnya. Akhirnya secara perlahan sistem administrasi kepegawain di PDAM Intan Banjar sudah tersusun rapi. Setelah itu,  Ketua Departemen Penyehatan dan Pengembangan PDAM DPP PERPAMSI ini mulai melakukan penegakan disiplin dengan memberhentikan karyawan yang melanggar peraturan berat, seperti terlibat narkoba, terlibat sambungan air ilegal dan melakukan pencurian.
“Tantangan saya waktu itu luar biasa berat, karena dulu itu dianggap sarangnya narkoba. Tapi kalau pelanggaran kecil, masih bisa dibina,” tukasnya. Rifqie juga harus menghadapi karyawan yang emosi karena tidak puas ketika dipecat. “Bahkan ada yang bawa golok ke kantor. Banyak premannya disitu, dulu orang masuk PDAM takut, itu sarang preman. Saya hadapi saja, karena kalau secara psikologis, kalau kita gertak duluan, orang takut, menang gertak dulu. Yang utamanya, aku dilindungi Allah la, karena niat kita baik,” ungkap Rifqie. Tidak hanya mendapat reaksi langsung seperti itu, Rifqie juga mendapatkan ancaman melalui sms dan ancaman akan disantet.

Meski harus menghadapi tantangan yang cukup berat, dalam hal pembenahan karyawan, namun dengan keyakinan serta sikap nothing to loos,  Rifqie berhasil memperbaiki kondisi karyawan. Waktu itu Rifqie juga melakukan langkah berani dengan memecat karyawan yang melakukan kesalahan berat, padahal karyawan tersebut keponakan beberapa pejabat. “Setiap saya melakukan pemberhentian kan, saya lapor Bupati. Beliau senyum-senyum saja ketika saya memecat keluarga pejabat. Karena komitmen awalnya, Bupati tidak ikut campur. Badan Pengawas juga tidak ikut campur. Jadi saya didukung penuh,” katanya lagi.
Untuk melakukan pembenahan berbagai macam masalah tersebut, Rifqie membutuhkan waktu selama satu tahun. Dalam melakukan penertiban sistem kepegawaian, ia lebih memilih untuk melakukannya sendiri, tanpa membentuk tim. Hal ini dikarenakan bagian penertiban pun, juga termasuk yang tidak tertib. “Pertama kali saya datang di PDAM itu, saya mendapat masukan dari pejabat sebelumnya. Setelah mendapat masukan, kebijakan yang saya lakukan adalah membubarkan seluruh anggota tim penertiban. Mereka saya pindah tugaskan ditempat yang berbeda-beda, ada yang ke bagian umum, bagian lain. Sehingga mereka tidak berkumpul satu tempat,” bebernya.

Sistem Kepegawaian Diperbaiki, Pendapatan Ditingkatkan
Selain memperbaiki sistem kepegawaian, Rifqie juga melakukan peningkatan pendapatan. Ada dua cara yang diterapkan Rifqie, yang pertama  untuk  dengan menaikkan kelas pelanggan atau reklasifikasi  dan menaikkan tarif pelanggan. Untuk kenaikan tarif ini Rifqie memberlakukan kenaikan tarif, setiap enam bulan sekali, selama kurang lebih dua tahun. Kebijakan ini bukan tidak menemui masalah, karena ada satu kampung didaerah tersebut yang tidak mau membayar tarif air minum. Namun dengan sosialisasi terus menerus, masalah seperti ini dapat diatasi dengan baik.

“Kita melakukan pendekatan kepada masyarakat setempat dengan gencar dan Alhamdulillah mereka mau bayar, meski tertunda satu bulan,” ungkapnya. Dengan pengalaman yang ada, Rifqie menarik kesimpulan bahwa setiap kebijakan harus dilaksanakan secara konsisten, karena bila satu kali saja kebijakan tidak dilaksanakan secara konsisten, maka akan mendapatkan protes berbagai pihak. “Saya berusaha konsisten, tidak perduli siapa orangnya, kalau melanggar saya beri sanksi. Dulu  sudah banyak surat peringatan yang saya berikan. Sampai-sampai ada teman-teman yang menyebut saya orang gila,” ucapnya sambil tertawa. Meski harus bertindak tegas kepada karyawan, Rifqie juga melakukan perbaikan pendapatan. Setiap pendapatan yang dihasilkan, ia upayakan untuk kesejahteraan karyawan. Dengan demikian reward dan punishment dilakukan secara seimbang.
Ketegasan dan komitmen yang kuat yang dilakukan Rifqie, menyebabkan PDAM Intan Banjar ini menjadi PDAM yang maju dan memiliki 43 ribu pelanggan. Namun tantangan masih banyak harus dihadapinya, salah diantaranya meningkatkan caukup pelanggan yang saat ini baru mencapai 37 persen.  “Untuk mencapai cakupan pelanggan 80 persen, dibutuhkan dana sebesar Rp 1,2 triliun. Untuk membiayai ini tidak mungkin pemerintah daerah saja, tapi juga membutuhkan bantuan pemerintah pusat. Kita juga harus bisa menjelaskan ke pemerintah kebutuhan apa,” harapnya.

Komitmen yang kuat terhadap PDAM,  menyebabkan Rifqie harus mengorbankan  keluarga, dimana ia harus hidup terpisah dengan anak-anaknya. “Hanya saya dan istri tinggal di Kalimantan, anak-anak di kota lain. Walaupun demikian saya mohon Allah menjaga keluarga,” kata Rifqie. Anak pertamnya  M. Ibnu Kautsar, baru lulus S2 di Binus, anak keduanya M. Bashir Al Fattah masih kuliah di Unikom Bandung kuliah, dan M Ikhsan Saputro juga masih kuliah di ITB.  “Jadi istilahnya, keluarga saya harus bersama tapi tidak bersama, jadi itu menjadi pengorbanan saya. Meski demikian anak-anak mendukung. Waktu saya menjadi konsultan juga berpisah dengan keluarga dan keluar kota beberapa hari,” jelasnya. Setelah terpisah dengan orang tua sejak tahun 1971 karena pekerjaan, kini kesempatan Rifqie menyenangkan orangtuanya, terutama ayahnya. Sementara ibunya sekarang sudah tiada sejak tahun 2010.

Dengan berbagai pengalaman yang dihadapi, Rifqie juga tidak khawatir, bila suatu waktu harus menanggalkan jabatannya tersebut. Sebab baginya memajukan PDAM dapat dilakukan lewat mana saja, termasuk melalui konsultan air minum yang pernah dijalaninya beberapa tahun yang lalu. Ia berharap kemajuan yang sudah dicapai PDAM Intan Banjar saat ini dapat terus dikembangkan, meski ia tidak lagi berada di PDAM tersebut. Melalui Departemen Penyehatan DPP PERPAMSI ia juga berupaya untuk membantu PDAM di seluruh Indonesia agar dapat sehat dan lebih maju dari sebelumnya. 

 

SUMBER : MAJALAH PERPAMSI

 

Author:

Polls

Kualitas air PDAM

View Results

Loading ... Loading ...